Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Anda
pernah mengikuti training motifasi? Atau mungkin anda sering mengikuti
latihan tersebut? Setelah anda berlatih, anda akan merasa bangkit,
semangat untuk mengatasi masalah-masalah kehidupan yang ada. Setelah
seminggu semangat anda seakan masih melekat ditubuh anda, dua minggu
kemudian seakan semangat tersebut mulai mengendor, satu bulan kemudian
serasa biasa-biasa saja, dua bulan kemudian training tersebut seakan
tidak membekas sedikitpun. Sekiranya seperti itukah yang anda rasakan?
Mengikuti training motivasi memang sangat berguna untuk membangkitkan
jiwa anda, namun setelah itu belum tentu anda masih merasakan semangat
membara yang dirasa seperti setelah anda melakukan training motivasi.
Itu
semua bukan karena training motivasi tersebut tidak berguna atau kurang
ampuh, semua itu ampuh apabila diiringi dengan kesadaran diri yang
berkelanjutan tanpa putus. Dan kesadaran sendiri bukanlah datang dari
orang yang memotivasi, semua itu datang dari Allah yang telah memberikan
keberkahan, anugrah, dan amanat kesadaran. Tinggal bagaimana cara kita
untuk mempertahankannya.
Yang
perlu anda lakukan mula-mula adalah mengenal diri terlebih dahulu.
Sudah jelas anda pasti mengenal diri anda sendiri kecuali anda mengalami
hilang ingatan. Setelah itu pasti anda akan mengenal seseorang yang
anda sayangi seperti orang tua, saudara kandung, lalu sahabat anda,
kekasih anda. Namun anda belum tentu mengenal saudara sepupu dari adik
ibu, kakak ibu, sepupu dari adik bapak, kakak bapak, saudara kakek, anak
saudara kakek, nenek, tetangga sebelah, tetangga belakang rumah,
tetangga satu blok yang intinya semakin jauh hubungan kerabat, anda akan
semakin tidak mengenal dia ataupun mereka. Seseorang yang pasti sangat
dikenal oleh anda adalah “diri anda sendiri”.
Banyak
orang menginginkan memiliki pendamping yang bisa mengerti dirinya, bisa
meluluhkan dirinya, merawat dirinya, membahagiakan dirinya, dan
harapan-harapan lainnya. Harapan-harapan tersebut tidaklah salah,
seseorang yang benar-benar memahami apa-apa yang disukai kita, yang
membuat kita tenang, yang membuat kita good mood,
dan lain hal yang kita rasa itu sangat pas untuk diri kita adalah diri
kita sendiri. Diri kita saja tidak bisa membuat diri kita luluh,
bahagia, tenteram dan lain-lain. Apalagi orang sekeliling kita yang
belum tentu bisa mengenal diri kita dengan jelas? Mungkin seseorang bisa
membuat kita nyaman, namun semua itu bergantung dengan respon yang kita
pancarkan.
Suatu
saat anda sedang sedih, lalu ada seseorang mencoba menghibur anda,
namun belum tentu anda akan merasa senang olehnya. Semua tergantung
kita, jika kita menghendaki kita senang, maka kita akan senang. Jika
kita menghendaki diri kita tetap sedih, maka terus berkelanjutan diri
kita akan merasa sedih. Itu semua akan berhenti sesuai dengan titik
kejenuhan kita. Semua orang pasti akan menemukan titik jenuhnya. Tidak
mungkin anda akan bernafas hingga satu menit lamanya tanpa menghembuskan
udara yang anda hirup. Semua itu membutuhkan respon yang anda lakukan,
semua kehendak anda. Allah telah memberikan kebebasan kepada kita untuk
bergerak, berkata, mendengar, melihat, memandang, dan kegiatan lainnya.
Sehingga kehendak henti juga milik kita. Apakah anda akan terus memakan
makanan tersebut meski makanan satu meja penuh masih ada dan anda telah
kenyang, jikalau pun anda tidak berhenti memakan, apakah semua itu
takdir? Semua hal kecil tersebut ada didalam kehendak kita. Kecuali
kehendak besar, seperti kematian, bencana alam, malapetaka, dan kehendak
besar lainnya.
Jika
kita semua telah mengetahui konsep dasar pengenalan diri, yang perlu
kita lakukan selanjutnya adalah pelatihan dan pengulangan yang akan
membentuk sebuah kebiasaan diri kita. Sebagaimana anda para gamer, anda akan merasa gundah jika sehari saja anda tidak nge-game.
Seperti ada yang kurang didalam diri anda. Semua itu terjadi adalah
atas kehendak anda yang telah dilatih dan diulang terus-menerus yang
akan membentuk suatu kebiasaan. Dan kebiasaan ada yang bernilai baik dan
ada yang bernilai buruk. Bernilai baik jika kebiasaan itu didominasi
dengan nilai yang baik, begitu pula sebaliknya dengan kebiasaan yang
buruk. Karena tidak ada yang sia-sia di dunia ini, semua ada manfaatnya
dan ada keburukannya.
Seorang
kyai yang sedang mengajar ataupun berdakwah, manfaatnya sangatlah besar
untuk umat Islam, keburukannya ialah dia akan semakin dibenci oleh
musuh-musuh Allah, seperti syaitonnirrojim. Hal yang terlihat baik pun
ada keburukannya menurut pandangan manusia. Itu semua adalah sunatullah.
Kembali
pada kebiasaan, saya ulangi, kebiasaan terbentuk karena adanya
pelatihan dan pengulangan. Semakin kita melatih dan mengulang terus
kebiasaan tersebut, maka kebiasaan tersebut akan semakin kokoh dan
kebiasaan tersebut semua bergantung pada kebijaksanaan kita. Jika itu
baik maka lanjutkan, jika itu buruk maka kita perlu hapus kebiasaan
tersebut.
Sebagai
contoh, ada seorang akrobatik yang terus melatih dan mengulang
kemahirannya yaitu berjalan di atas tali tanpa memegang benda
penyeimbang, dan tanpa perangkat pengaman. Dia terus menerus melatih dan
mengulang kemahirannya, sehingga semakin jadilah kebiasaan tersebut.
Suatu saat diadakan pameran sirkus dan akrobatik tersebut ikut serta
dalam sirkus tersebut. Mata kita yang melihat pertunjukan tersebut akan
tercengang dan tegang, setelah akrobatik tersebut berhasil melakukan
pertunjukan, kita keheranan akan aksinya. Tapi bagaimanakah ekspresi
akrobatik tersebut? Apakah dia ikut keheranan melihat aksinya sendiri?
Tentu saja tidak, karena dia telah terbiasa melihat aksinya sendiri. Ya,
dia telah membuat kebiasaan yang istimewa sehingga orang-orang yang
melihat aksinya keheranan.
Membuat
suatu kebiasaan yang istimewa memang tidak mudah. Namun jika kita telah
mendapatkan kebiasaan tersebut kita akan menjadi seseorang yang spesial
dimata orang lain. Sehingga hidup kita akan lebih bermakna karena hidup
kita berguna untuk orang lain sesuai dengan keahlian kita
masing-masing. Lalu untuk mendapatkan selfmotivation
apakah perlu kita mengikuti training motivasi di tiap harinya? Tentu
saja tidak, karena self motivation itu bukan datang dari seorang trainer
yang melatih, tetapi dari diri sendiri. Dalam diri kita masing-masing
memiliki potensi yang sangat besar di berbagai segi. Apalagi untuk
menyemangati diri, karena semangat adalah salah satu komponen tubuh yang
kita perlukan untuk menggerakan episode demi episode kehidupan kita.
Kehidupan kita selalu berhubungan dengan orang lain, sehingga percayalah
bahwa diri anda benar-benar sangat dibutuhkan oleh orang lain. Dalam
arti lain, hidup anda sangat berharga, itu pasti!
Pantaskan
diri anda! Karena anda benar-benar pantas berperan dalm bidang anda.
Anda sangat berharga, sehingga ambilah suatu bidang yang baik dan benar
menurut hati nurani anda dan potensi kemahiran anda! Buatlah suatu
kebiasaan yang spesial! Jika anda merasa memiliki suatu kebiasaan yang
buruk, maka tinggalkanlah! Jika anda sudah membaca tulisan saya sampai
sejauh ini, saya percaya bahwa anda adalah orang yang baik-baik dan
ingin sekali untuk mengembangkan potensi sukses anda. Buatlah kebiasaan
baru untuk menggantikan suatu kebiasaan yang buruk. Jika anda selalu
ingin bermain game, maka tinggalkanlah, ganti dengan suatu kebiasaan
spesial yang baru! Karena anda pantas mendapatkan sesuatu yang spesial.
Namun sesuatu yang spesial tersebut bukanlah langsung jatuh dari langit
di hadapan anda, semua di alam bumi ini memiliki suatu ciri khas yaitu
adanya “proses”.
“Jamur yang bersemi dipagi hari itu sangatlah rapuh, sangat berbeda dengan pohon beringin yang telah berumur lima puluh tahun”, bukankah
hukum alam seperti itu? Semua melalui proses begitu juga dengan diri
anda. Saat anda berumur 9 bulan (mungkin baru lahir) apakah anda lansung
bisa berlari, memakai baju, berbicara, tertawa, memakan nasi? Tentu
saja tidak, seiring dengan waktu yang terus berjalan, anda mulai berubah
dan tumbuh. Semakin lama anda akan bisa merangkak, berdiri, berjalan,
berlari, berceloteh, berbicara, bercerita, tidak hanya menangis namun
tertawa, bersedih, terharu, senang dengan ekspresi senyuman, bersimpati,
berempati dan masih banyak lagi kenampakan-kenampakan perubahan yang
ada dalam diri kita. Jika kita rekap kembali semua itu, dari memakai
bedong hingga celana pensil, semua itu spesial hadiah dari Allah untuk
kita, sehingga kita hidup sampai sekarang. Apakah betul diri kita tidak
berguna sedangkan Allah selalu memberikan kita rahmat dan hidayahnya
sehingga anda masih saja membaca tulisan-tulisan ini? Bersyukur atas
semua maksud saya. Karena syukur adalah obat mujarab untuk diri kita
yang masih dilanda kesusahan.
Ada
seorang pegawai dipecat oleh bosnya, lalu dia berkata “Alhamdulillah,
pintu rezeki saya yang satu ini tertutup, tapi saya percaya Allah akan
membuka delapan pintu rezeki lainnya untuk diri saya”. Sikap optimis
juga termasuk dari kebiasaan istimewa yang perlu kita buat. Optimis
adalah gerakan hati yang membuat kita bergerak untuk mengerjakan apa-apa
yang kita inginkan. Untuk menjadikan diri kita seseorang yang optimis
yang perlu kita lakukan adalah “Do it! Just do it!”.
Rela ataupun tak rela lakukanlah apa-apa yang perlu anda lakukan jika
anda ingin menjadikan itu sebuah kebiasaan. Jika anda ingin menjadwalkan
diri anda untuk membaca buku 20 menit di tiap harinya, maka cukup
lakukanlah.
Optimis
merupakan sebuah kebiasaan. Seiring dengan banyaknya suatu permasalahan
dan kita selalu menanggapinya dengan optimis, rela ataupun tak rela
anda terus melakukannya, maka Insya Allah anda mendapatkan kebiasaan
baru yaitu optimis dalam menghadapi masalah untuk menyelesaikannya.
Seperti anda berpuasa di bulan Ramadhan. Rela ataupun tak rela anda
terus mengerjakannya. Setelah sekiranya 29 hari lamanya di pagi hari
(sekitar jam enam pagi) anda tidak makan, disaat Idul Fitri anda harus
makan untuk sekiranya mencegah untuk tidak berpuasa, apa yang anda
rasakan? Seakan diri anda tidak mau/males untuk makan, hal itu bisa
terjadi tapi anda tau kenapa? Ya, anda mulai mendapatkan sebuah
kebiasaan baru, yaitu berpuasa.
Lalu
anda mungkin sering mendengar kata-kata watak, dimulai dari pemarah,
cerewet, cablak, pendiam, pelamun, pembohong, dan watak-watak yang lain.
Itu semua bukanlah bawaan dari lahir. Apa iya ada bayi yang suka
marah-marah? Saya kira tidak ada. Melainkan itu semua berasal dari
sebuah kebiasaan yang sering kita lakukan. Jadi sebenarnya anda juga
berhak menjadi seseorang yang penyabar, baik hati, bijaksana, penyantun,
dermawan, periang, penghibur, dan watak baik lainnya. Kita semua berhak
mendapatkannya. Tergantung kita mau berubah atau tidaknya. Jika kita
mau berubah maka kita juga harus mendapatkan konsekuensinya. Dan ingat
pula semua itu butuh proses. Impikan semua apa yang inginkan dan biarkan
pengolah mengolah dirinya, yaitu anda!
Pemimpi.
Semua orang mempunyai keinginan dan impian yang ingin mereka dapatkan
atau capai. Namun banyak juga yang meragukan akan impian yang mereka
mimpikan bisa tercapai. Bahkan ada beberapa orang yang ditanya tentang
impian mereka, mereka malah bingung. Dan ada juga yang berpikir impian
yang terlalu tinggi malah akan membuat ngedrop
saat ternyata impian tersebut tidak berhasil. Sedangkan sesuatu yang
seakan kita bisa rasakan, sebagai pengingat semangat akan keberhasilan,
dan semua itu gratis tidak perlu membayar adalah Mimpi/Impian.
Impian adalah sebagai dasar kita bergerak, karena di dalam impian
tersebut memiliki tujuan, dan untuk mencapai tujuan tersebut diperlukan
aksi yang akan bernilai setara dengan reaksinya, dalam hukum kimia ini
biasa disebut hukum aksi-reaksi,
Hehe.. Nasib itu memang sudah ditentukan, rezeki pun telah ditentukan
oleh Tuhan, tapi apa urusannya dengan diri kita? Sudah tahu kalau itu
urusan Tuhan, tapi kenapa kita seringkali men-judge kalau yang kita alami selama ini adalah nasib dari Tuhan? Ingatlah nasib dan rezeki itu urusan Tuhan! Jangan sok tahu, betul?
Seseorang pasti ingin menjadi orang yang spesial, dalam artian sesorang
ingin menjadikan dirinya spesial. Namun dengan syarat, dia harus
mempunyai mimpi dan itu pasti. Saya ulangi kembali. Spesial, sesorang
dianggap spesial apabila dia memiliki spesialisasi tertentu dalam bidang
yang ia kuasai pula. Namun ada juga seseorang yang berusaha untuk
menjadikan dirinya sebagai multi-spesialist.
Dimisal ada seorang guru Bahasa Inggris, namun disisi lain, dia tidak
bisa pelajaran Matematika, misalnya. Namun apakah perlu kita mencaci dia
yang tidak bisa pelajaran Matematika? Tidak perlu, dan itu sebuah
kesalahan jika kita mencacinya karena memang itu bukan bidangnya. Allah
memberikan masing-masing manusia dengan spesialisasi yang berbeda-beda,
sehingga kita bisa saling berinteraksi untuk memenuhi kebutuhan hidup
kita.
Hidup adalah pilihan, hari ini adalah hasil pilihan dimasa lalu, dan
hari ini adalah pilihan sebagai penentu dimasa depan. Anda bisa melihat
benda yang ada di depan anda, tapi dalam waktu yang sama anda tidak bisa
melihat suatu benda yang ada di belakang anda. Itulah pilihan! Dalam
suatu masalah yang besar kita sering bingung untuk menentukan sebuah
pilihan sedangkan semua itu penting bagi anda. Sehingga mungkin anda
pernah berpikir, “kalau begitu saya tidak memilih keduanya”. Anda tetap
akan mendapatkan sebuah pilihan, anda akan memilih diantara mereka, atau
tidak memilih diantara mereka semua. Bukankah begitu? Pilihan selalu
menyelimuti kita sebelum kita menyutujui atau mengeksekusi sesuatu.
Bicara tentang multi-spesialist anda mungkin berpikir, “Pilihan itu
tidak hanya ada dua tetapi bisa lebih”. Tidak, itu masih mempunyai dua
opsi pilihan. Yaitu multi-spesialist atau spesialist. Atau pula anda
ingin menjadi seseorang yang spesial atau orang yang biasa-biasa saja?
Pilihan opsinya selalu mempunyai nilai keterbalikan/ tidak berbanding
lurus. Jika anda ingin berpoligami pilihan anda ada dua, poligami atau
tidak poligami.
Sehingga bisa dikatakan rumusnya sekiranya ialah:
-
Niatkan diri atau tidak
-
Pantaskan diri atau tidak
-
Mengolah diri atau tidak
- Jika satu pun tidak, pasti anda tidak akan menjadi yang anda ingin, karena semua itu perlu konsekuensi
Blog baru ya lut?
BalasHapusfollow blogq yg baru juga dong...
yustiewenny.blogspot.com