Senin, 31 Desember 2012

Memotivasi Diri

Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Anda pernah mengikuti training motifasi? Atau mungkin anda sering mengikuti latihan tersebut? Setelah anda berlatih, anda akan merasa bangkit, semangat untuk mengatasi masalah-masalah kehidupan yang ada. Setelah seminggu semangat anda seakan masih melekat ditubuh anda, dua minggu kemudian seakan semangat tersebut mulai mengendor, satu bulan kemudian serasa biasa-biasa saja, dua bulan kemudian training tersebut seakan tidak membekas sedikitpun. Sekiranya seperti itukah yang anda rasakan? Mengikuti training motivasi memang sangat berguna untuk membangkitkan jiwa anda, namun setelah itu belum tentu anda masih merasakan semangat membara yang dirasa seperti setelah anda melakukan training motivasi.
Itu semua bukan karena training motivasi tersebut tidak berguna atau kurang ampuh, semua itu ampuh apabila diiringi dengan kesadaran diri yang berkelanjutan tanpa putus. Dan kesadaran sendiri bukanlah datang dari orang yang memotivasi, semua itu datang dari Allah yang telah memberikan keberkahan, anugrah, dan amanat kesadaran. Tinggal bagaimana cara kita untuk mempertahankannya.
Yang perlu anda lakukan mula-mula adalah mengenal diri terlebih dahulu. Sudah jelas anda pasti mengenal diri anda sendiri kecuali anda mengalami hilang ingatan. Setelah itu pasti anda akan mengenal seseorang yang anda sayangi seperti orang tua, saudara kandung, lalu sahabat anda, kekasih anda. Namun anda belum tentu mengenal saudara sepupu dari adik ibu, kakak ibu, sepupu dari adik bapak, kakak bapak, saudara kakek, anak saudara kakek, nenek, tetangga sebelah, tetangga belakang rumah, tetangga satu blok yang intinya semakin jauh hubungan kerabat, anda akan semakin tidak mengenal dia ataupun mereka. Seseorang yang pasti sangat dikenal oleh anda adalah “diri anda sendiri”.
Banyak orang menginginkan memiliki pendamping yang bisa mengerti dirinya, bisa meluluhkan dirinya, merawat dirinya, membahagiakan dirinya, dan harapan-harapan lainnya. Harapan-harapan tersebut tidaklah salah, seseorang yang benar-benar memahami apa-apa yang disukai kita, yang membuat kita tenang, yang membuat kita good mood, dan lain hal yang kita rasa itu sangat pas untuk diri kita adalah diri kita sendiri. Diri kita saja tidak bisa membuat diri kita luluh, bahagia, tenteram dan lain-lain. Apalagi orang sekeliling kita yang belum tentu bisa mengenal diri kita dengan jelas? Mungkin seseorang bisa membuat kita nyaman, namun semua itu bergantung dengan respon yang kita pancarkan.
Suatu saat anda sedang sedih, lalu ada seseorang mencoba menghibur anda, namun belum tentu anda akan merasa senang olehnya. Semua tergantung kita, jika kita menghendaki kita senang, maka kita akan senang. Jika kita menghendaki diri kita tetap sedih, maka terus berkelanjutan diri kita akan merasa sedih. Itu semua akan berhenti sesuai dengan titik kejenuhan kita. Semua orang pasti akan menemukan titik jenuhnya. Tidak mungkin anda akan bernafas hingga satu menit lamanya tanpa menghembuskan udara yang anda hirup. Semua itu membutuhkan respon yang anda lakukan, semua kehendak anda. Allah telah memberikan kebebasan kepada kita untuk bergerak, berkata, mendengar, melihat, memandang, dan kegiatan lainnya. Sehingga kehendak henti juga milik kita. Apakah anda akan terus memakan makanan tersebut meski makanan satu meja penuh masih ada dan anda telah kenyang, jikalau pun anda tidak berhenti memakan, apakah semua itu takdir? Semua hal kecil tersebut ada didalam kehendak kita. Kecuali kehendak besar, seperti kematian, bencana alam, malapetaka, dan kehendak besar lainnya.
Jika kita semua telah mengetahui konsep dasar pengenalan diri, yang perlu kita lakukan selanjutnya adalah pelatihan dan pengulangan yang akan membentuk sebuah kebiasaan diri kita. Sebagaimana anda para gamer, anda akan merasa gundah jika sehari saja anda tidak nge-game. Seperti ada yang kurang didalam diri anda. Semua itu terjadi adalah atas kehendak anda yang telah dilatih dan diulang terus-menerus yang akan membentuk suatu kebiasaan. Dan kebiasaan ada yang bernilai baik dan ada yang bernilai buruk. Bernilai baik jika kebiasaan itu didominasi dengan nilai yang baik, begitu pula sebaliknya dengan kebiasaan yang buruk. Karena tidak ada yang sia-sia di dunia ini, semua ada manfaatnya dan ada keburukannya.
Seorang kyai yang sedang mengajar ataupun berdakwah, manfaatnya sangatlah besar untuk umat Islam, keburukannya ialah dia akan semakin dibenci oleh musuh-musuh Allah, seperti syaitonnirrojim. Hal yang terlihat baik pun ada keburukannya menurut pandangan manusia. Itu semua adalah sunatullah.
Kembali pada kebiasaan, saya ulangi, kebiasaan terbentuk karena adanya pelatihan dan pengulangan. Semakin kita melatih dan mengulang terus kebiasaan tersebut, maka kebiasaan tersebut akan semakin kokoh dan kebiasaan tersebut semua bergantung pada kebijaksanaan kita. Jika itu baik maka lanjutkan, jika itu buruk maka kita perlu hapus kebiasaan tersebut.
Sebagai contoh, ada seorang akrobatik yang terus melatih dan mengulang kemahirannya yaitu berjalan di atas tali tanpa memegang benda penyeimbang, dan tanpa perangkat pengaman. Dia terus menerus melatih dan mengulang kemahirannya, sehingga semakin jadilah kebiasaan tersebut. Suatu saat diadakan pameran sirkus dan akrobatik tersebut ikut serta dalam sirkus tersebut. Mata kita yang melihat pertunjukan tersebut akan tercengang dan tegang, setelah akrobatik tersebut berhasil melakukan pertunjukan, kita keheranan akan aksinya. Tapi bagaimanakah ekspresi akrobatik tersebut? Apakah dia ikut keheranan melihat aksinya sendiri? Tentu saja tidak, karena dia telah terbiasa melihat aksinya sendiri. Ya, dia telah membuat kebiasaan yang istimewa sehingga orang-orang yang melihat aksinya keheranan.
Membuat suatu kebiasaan yang istimewa memang tidak mudah. Namun jika kita telah mendapatkan kebiasaan tersebut kita akan menjadi seseorang yang spesial dimata orang lain. Sehingga hidup kita akan lebih bermakna karena hidup kita berguna untuk orang lain sesuai dengan keahlian kita masing-masing. Lalu untuk mendapatkan selfmotivation apakah perlu kita mengikuti training motivasi di tiap harinya? Tentu saja tidak, karena self motivation itu bukan datang dari seorang trainer yang melatih, tetapi dari diri sendiri. Dalam diri kita masing-masing memiliki potensi yang sangat besar di berbagai segi. Apalagi untuk menyemangati diri, karena semangat adalah salah satu komponen tubuh yang kita perlukan untuk menggerakan episode demi episode kehidupan kita. Kehidupan kita selalu berhubungan dengan orang lain, sehingga percayalah bahwa diri anda benar-benar sangat dibutuhkan oleh orang lain. Dalam arti lain, hidup anda sangat berharga, itu pasti!
Pantaskan diri anda! Karena anda benar-benar pantas berperan dalm bidang anda. Anda sangat berharga, sehingga ambilah suatu bidang yang baik dan benar menurut hati nurani anda dan potensi kemahiran anda! Buatlah suatu kebiasaan yang spesial! Jika anda merasa memiliki suatu kebiasaan yang buruk, maka tinggalkanlah! Jika anda sudah membaca tulisan saya sampai sejauh ini, saya percaya bahwa anda adalah orang yang baik-baik dan ingin sekali untuk mengembangkan potensi sukses anda. Buatlah kebiasaan baru untuk menggantikan suatu kebiasaan yang buruk. Jika anda selalu ingin bermain game, maka tinggalkanlah, ganti dengan suatu kebiasaan spesial yang baru! Karena anda pantas mendapatkan sesuatu yang spesial. Namun sesuatu yang spesial tersebut bukanlah langsung jatuh dari langit di hadapan anda, semua di alam bumi ini memiliki suatu ciri khas yaitu adanya “proses”.
Jamur yang bersemi dipagi hari itu sangatlah rapuh, sangat berbeda dengan pohon beringin yang telah berumur lima puluh tahun”, bukankah hukum alam seperti itu? Semua melalui proses begitu juga dengan diri anda. Saat anda berumur 9 bulan (mungkin baru lahir) apakah anda lansung bisa berlari, memakai baju, berbicara, tertawa, memakan nasi? Tentu saja tidak, seiring dengan waktu yang terus berjalan, anda mulai berubah dan tumbuh. Semakin lama anda akan bisa merangkak, berdiri, berjalan, berlari, berceloteh, berbicara, bercerita, tidak hanya menangis namun tertawa, bersedih, terharu, senang dengan ekspresi senyuman, bersimpati, berempati dan masih banyak lagi kenampakan-kenampakan perubahan yang ada dalam diri kita. Jika kita rekap kembali semua itu, dari memakai bedong hingga celana pensil, semua itu spesial hadiah dari Allah untuk kita, sehingga kita hidup sampai sekarang. Apakah betul diri kita tidak berguna sedangkan Allah selalu memberikan kita rahmat dan hidayahnya sehingga anda masih saja membaca tulisan-tulisan ini? Bersyukur atas semua maksud saya. Karena syukur adalah obat mujarab untuk diri kita yang masih dilanda kesusahan.
Ada seorang pegawai dipecat oleh bosnya, lalu dia berkata “Alhamdulillah, pintu rezeki saya yang satu ini tertutup, tapi saya percaya Allah akan membuka delapan pintu rezeki lainnya untuk diri saya”. Sikap optimis juga termasuk dari kebiasaan istimewa yang perlu kita buat. Optimis adalah gerakan hati yang membuat kita bergerak untuk mengerjakan apa-apa yang kita inginkan. Untuk menjadikan diri kita seseorang yang optimis yang perlu kita lakukan adalah “Do it! Just do it!”. Rela ataupun tak rela lakukanlah apa-apa yang perlu anda lakukan jika anda ingin menjadikan itu sebuah kebiasaan. Jika anda ingin menjadwalkan diri anda untuk membaca buku 20 menit di tiap harinya, maka cukup lakukanlah.
Optimis merupakan sebuah kebiasaan. Seiring dengan banyaknya suatu permasalahan dan kita selalu menanggapinya dengan optimis, rela ataupun tak rela anda terus melakukannya, maka Insya Allah anda mendapatkan kebiasaan baru yaitu optimis dalam menghadapi masalah untuk menyelesaikannya. Seperti anda berpuasa di bulan Ramadhan. Rela ataupun tak rela anda terus mengerjakannya. Setelah sekiranya 29 hari lamanya di pagi hari (sekitar jam enam pagi) anda tidak makan, disaat Idul Fitri anda harus makan untuk sekiranya mencegah untuk tidak berpuasa, apa yang anda rasakan? Seakan diri anda tidak mau/males untuk makan, hal itu bisa terjadi tapi anda tau kenapa? Ya, anda mulai mendapatkan sebuah kebiasaan baru, yaitu berpuasa.
Lalu anda mungkin sering mendengar kata-kata watak, dimulai dari pemarah, cerewet, cablak, pendiam, pelamun, pembohong, dan watak-watak yang lain. Itu semua bukanlah bawaan dari lahir. Apa iya ada bayi yang suka marah-marah? Saya kira tidak ada. Melainkan itu semua berasal dari sebuah kebiasaan yang sering kita lakukan. Jadi sebenarnya anda juga berhak menjadi seseorang yang penyabar, baik hati, bijaksana, penyantun, dermawan, periang, penghibur, dan watak baik lainnya. Kita semua berhak mendapatkannya. Tergantung kita mau berubah atau tidaknya. Jika kita mau berubah maka kita juga harus mendapatkan konsekuensinya. Dan ingat pula semua itu butuh proses. Impikan semua apa yang inginkan dan biarkan pengolah mengolah dirinya, yaitu anda!
Pemimpi. Semua orang mempunyai keinginan dan impian yang ingin mereka dapatkan atau capai. Namun banyak juga yang meragukan akan impian yang mereka mimpikan bisa tercapai. Bahkan ada beberapa orang yang ditanya tentang impian mereka, mereka malah bingung. Dan ada juga yang berpikir impian yang terlalu tinggi malah akan membuat ngedrop saat ternyata impian tersebut tidak berhasil. Sedangkan sesuatu yang seakan kita bisa rasakan, sebagai pengingat semangat akan keberhasilan, dan semua itu gratis tidak perlu membayar adalah Mimpi/Impian.
Impian adalah sebagai dasar kita bergerak, karena di dalam impian tersebut memiliki tujuan, dan untuk mencapai tujuan tersebut diperlukan aksi yang akan bernilai setara dengan reaksinya, dalam hukum kimia ini biasa disebut hukum aksi-reaksi, Hehe.. Nasib itu memang sudah ditentukan, rezeki pun telah ditentukan oleh Tuhan, tapi apa urusannya dengan diri kita? Sudah tahu kalau itu urusan Tuhan, tapi kenapa kita seringkali men-judge kalau yang kita alami selama ini adalah nasib dari Tuhan? Ingatlah nasib dan rezeki itu urusan Tuhan! Jangan sok tahu, betul?
Seseorang pasti ingin menjadi orang yang spesial, dalam artian sesorang ingin menjadikan dirinya spesial. Namun dengan syarat, dia harus mempunyai mimpi dan itu pasti. Saya ulangi kembali. Spesial, sesorang dianggap spesial apabila dia memiliki spesialisasi tertentu dalam bidang yang ia kuasai pula. Namun ada juga seseorang yang berusaha untuk menjadikan dirinya sebagai multi-spesialist.
Dimisal ada seorang guru Bahasa Inggris, namun disisi lain, dia tidak bisa pelajaran Matematika, misalnya. Namun apakah perlu kita mencaci dia yang tidak bisa pelajaran Matematika? Tidak perlu, dan itu sebuah kesalahan jika kita mencacinya karena memang itu bukan bidangnya. Allah memberikan masing-masing manusia dengan spesialisasi yang berbeda-beda, sehingga kita bisa saling berinteraksi untuk memenuhi kebutuhan hidup kita.
Hidup adalah pilihan, hari ini adalah hasil pilihan dimasa lalu, dan hari ini adalah pilihan sebagai penentu dimasa depan. Anda bisa melihat benda yang ada di depan anda, tapi dalam waktu yang sama anda tidak bisa melihat suatu benda yang ada di belakang anda. Itulah pilihan! Dalam suatu masalah yang besar kita sering bingung untuk menentukan sebuah pilihan sedangkan semua itu penting bagi anda. Sehingga mungkin anda pernah berpikir, “kalau begitu saya tidak memilih keduanya”. Anda tetap akan mendapatkan sebuah pilihan, anda akan memilih diantara mereka, atau tidak memilih diantara mereka semua. Bukankah begitu? Pilihan selalu menyelimuti kita sebelum kita menyutujui atau mengeksekusi sesuatu.
Bicara tentang multi-spesialist anda mungkin berpikir, “Pilihan itu tidak hanya ada dua tetapi bisa lebih”. Tidak, itu masih mempunyai dua opsi pilihan. Yaitu multi-spesialist atau spesialist. Atau pula anda ingin menjadi seseorang yang spesial atau orang yang biasa-biasa saja? Pilihan opsinya selalu mempunyai nilai keterbalikan/ tidak berbanding lurus. Jika anda ingin berpoligami pilihan anda ada dua, poligami atau tidak poligami.
Sehingga bisa dikatakan rumusnya sekiranya ialah:
  1. Niatkan diri atau tidak
  2. Pantaskan diri atau tidak
  3. Mengolah diri atau tidak
  4. Jika satu pun tidak, pasti anda tidak akan menjadi yang anda ingin, karena semua itu perlu konsekuensi